Sopir Ngantuk, Avanza Terjang Abang Becak Mangkal

Sopir Ngantuk, Avanza Terjang Abang Becak Mangkal

Kediri (beritajatim.com) – Seorang abang becak tua Rohman (60) asal Kelurahan Kampungdalem, Kota Kediri dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran, Kota Kediri setelah ditabrak mobil Toyota Avanza. Kecelakaan ini terjadi akibat sopir mobil mengemudikan kendaraanya dalam kondisi mengantuk.

Kecelakaan terjadi Jalan Brigjen Katamso, Kota Kediri tepatnya di sebelah selatan Alun-Alun. Rohman tengah mangkal bersama dua tukang becak lainnya. Kakek tua ini tiduran diatas becaknya sambil menunggu penumpang.

Dari arah timur mobil Avanza dengan nomor polisi AG 1806 HD melaju kencang. Mobil yang disopiri Santoso dengan membawa satu orang penumpang Kusrin ini tiba-tiba banting stir ke kiri.

Continue reading

Advertisements

Rumah Bersama Bernama Pancasila

https://i2.wp.com/www.jawapos.com/uploads/news/2017/06/01/rumah-bersama-bernama-pancasila_m_134234.jpeg

KETEGANGAN dan polarisasi yang dipicu oleh proses politik elektoral memang mencemaskan. Betapa tidak. Karena perbedaan pandangan dan posisi politik, satu sama yang lain saling serang secara membabi-buta. Yang satu menuduh kafir, yang lain menuding garis keras. Yang satu teriak anti-asing, yang satu lagi mendamprat anti kebinekaan. Tidak heran jika sampai ada hubungan silaturahmi yang retak gara-gara itu.

Perbedaan pandangan dan sikap politik sebenarnya hal jamak dalam kehidupan demokrasi. Jika mau ditelaah lagi, ketegangan dan polarisasi yang terjadi pada masa silam bahkan jauh lebih kuat dan keras. Dulu ketegangan dan polarisasi itu bahkan dipicu oleh sesuatu yang mendasar: konflik ideologi. Pada masa ketika para pendiri bangsa masih mencari-cari bentuk kebangsaan dan kenegaraan, konflik ideologi itu tampak lebih sulit didamaikan, bahkan walau tidak sedang terjadi proses politik elektoral sekali pun.

Justru karena konflik ideologi yang mengeras itulah kita akhirnya ’’menemukan’’ Pancasila.

OPINI: Pentingnya Mengamankan Aplikasi

Liputan6.com, Jakarta – Beberapa dekade lalu, program komputer biasanya digunakan untuk mendukung kerja tim dalam perusahaan, misalnya untuk menyimpan data dan dokumen.

Program tersebut berjalan dalam server yang tersimpan di lingkungan perusahaan (on-premise), yang tentunya ditunjang oleh infrastruktur penyimpanan dan komputasi data yang relatif besar.

Pada saat itu, pengguna harus berada di kantor secara fisik untuk login dan menggunakan program tersebut dari komputer perusahaan.

Ketika perusahaan mulai menyimpan data-data berharga secara digital yang besarnya terus meningkat, maka semakin besar pula anggaran perusahaan untuk keamanan data Information Technology (IT).

Misalnya, perusahaan harus membeli firewall dan program antivirus agar data atau informasi dapat tersimpan dengan aman di dalam perusahaan.

Kita kemudian bermigrasi ke layanan berbasis web, yang menjadi awal mula revolusi ‘bekerja dari rumah’ atau work-from-home. Revolusi ini membawa misi memberdayakan karyawan dan mengurangi kebutuhan terhadap penyimpanan dan hardware. Namun, tentu saja ada harga yang harus dibayar.

Continue reading

Bahaya Laten Pasca-Komunisme

Liputan6.com, Jakarta – Bahaya laten Komunis? Itu dulu. Sekarang Indonesia menghadapi bahaya laten Islamis. Kaum komunis beserta ideologi komunisme di Indonesia sudah menjadi “hantu kuburan” yang sulit dan mustahil bangkit lagi. Bukan hanya di Indonesia, di berbagai belahan dunia, komunisme juga semakin menjadi “barang rongsokan” yang sepi peminat dan miskin pengikut. Mungkin hanya Korea Utara yang masih “bernostalgia” dengan komunisme.

Selebihnya, tidak ada negara dan masyarakat yang melirik dengan komunisme. Kuba sudah kapok menjadi rezim komunis yang terisolir, yang hanya mengakibatkan keterpurukan warga. Republik Rakyat China (PRC) kini sudah menjelma menjadi “negara gado-gado”: setengah komunis, setengah kapitalis.

Sementara Uni Soviet (USSR) sebagai “kampiun dan produser komunisme” sudah menjadi “mendiang” dan hancur berkeping-keping sejak akhir 1980-an, pecah menjadi puluhan negara kecil. Rusia, sebagai pewaris almarhum Soviet, sudah menjadi negara multi-partai. Partai Komunis tidak lagi dominan dan hegemonik.

Rusia kini berbentuk negara federasi dan republik semi-presidensial. Rusia bukanlah Soviet yang bertumpu pada komunisme, tetapi sudah berubah menjadi negara kapitalis yang bertumpu pada kekuataan pasar. Pula, Rusia dewasa ini adalah sebuah “negara agamis” di mana Kristen Ortodoks Rusia menjadi pilar utamanya.

Continue reading

Profil Yusuf Mansyur

Yusuf Mansur adalah nama beken dari Jam’an Nurkhatib Mansur. Siapa nyana, sebelum seterkenal sekarang, Yusuf sempat merasakan dinginnya penjara. Di usia 20 tahun, Yusuf dibui dua bulan karena masalah utang akibat dari bisnisnya yang gagal. Dan 20 tahun kemudian, Yusuf sudah berkecukupan dan bahkan ikut program tax amnesty.

“Hari ini saya ikut tax amnesty, ini spirit belajar. Bagaimana selama ini saya belajar hidup halal, hidup toyib, yang baik,” kata Yusuf Mansur, usai mendaftar ikut program tax amnesty, Jakarta, Jumat 30 September 2016.

Lahir di Jakarta, 19 Desember 1976, dari pasangan berkecukupan Abdurrahman Mimbar dan Humrifíah, Yusuf dibesarkan dalam lingkungan agama yang kuat. Ia bersekolah di institusi pendidikan agama Islam dari mulai ibtidaiyyah hingga perguruan tinggi. Untuk pendidikan dasar dan cicit ulama besar Betawi KH Muhammad Mansur ini sekolah di Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Chairiyah Mansuriyah, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.

Setelah itu, ia meneruskan ke Madrasah Aliyah Negeri 1, Grogol, Jakarta. Lulus sekolah menengah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Fakultas Syariah. Namun, ia tidak menyelesaikannnya karena lebih tertarik mengeluti hobinya balapan motor.

Sejak kecil Yusuf terlihat sebagai anak yang pintar dan aktif. Pada usia 9 tahun dia sering tampil pidato di sekolah pada setiap acara menjelang bulan Ramadan. Ia juga menjadi siswa lulusan terbaik di Aliyah pada usia remajanya.
Continue reading

profil mamah Dedeh

Dedeh Rosidah alias Mamah Dedeh mulai terkenal sejak berdakwah lewat radio. Namanya makin melambung saat ia intensif ceramah di media televisi. Perjalanan dakwahnya di media hampir 22 tahun. Padahal jauh sebelum itu, ia juga sudah berceramah keliling kampung.

Pada setiap cermahnya selalu mendapat respons yang baik. Bicaranya ceplas-ceplos ala orang Betawi. Penyampaiannya tegas, galak, kadang mengundang tawa para jemaahnya. Apalagi kalau sudah mendengar ketawa mama Dedeh sendiri. “Ya, saya menyampaikan apa adanya sesuai Quran dan Hadits,” jelas Mama Dedeh.  Perempuan kelahiran Ciamis, 5 Agustus 1951 ini mengenal dakwah sejak kecil. Ia adalan anak seorang kiai bernama Sujai dan menikah dengan Syarifuddin yang juga anak kiai asal Betawi KH.Hasan Basri.
Masa kecil dan remajanya ia habiskan di kota kelahirannya. Ia besar dalam lingkungan agama yang ketat. Ayahnya seorang kiai. Tak heran bila Mama Dedeh dan saudaranya melakoni seperti ayahnya berceramah sejak kecil. Saat usia SD, Mama Dedeh kadang mengisi ceramah-ceramah pengajian di kampung.

Lulus SMP, ia meneruskan sekolah pendidikan guru agama (PGA) yang tidak terlalu jauh dengan kegiatan ayahnya sebagai penceramah. Padahal ia bercita-cita ingin menjadi pelukis. Untuk meneruskan kegiatan ayahnya, Mama Dedeh dikirim ayahnya kuliah ke Jakarta pada usia 17 tahun. Pada tahun 1968 itulah ia tinggal di Asrama putri Institut Agama Islam Negeri (kini menjadi Universitas Islam Negeri) Syarief Hidayatullah. Ia mengambil Fakultas Tarbiyah (pendidikan).

Continue reading

Mengenang Benyamin S, Seniman Betawi yang Melegenda

Liputan6.com, Jakarta Perasaan Ellya Khadam tak enak. Di Lampung, kala tengah memenuhi kontrak sebagai penyanyi, ia tak bisa tidur. Seolah-olah ada sesuatu yang ganjil dan mengganjal hatinya. Namun ia tak bisa menjawabnya.

Ia ingat beberapa saat sebelum berangkat ke Lampung, saat syuting Mat Beken, Benyamin berkeluh-kesah.
Gue capek, El. Gue pengin makan sayur asem buatan lu.”

Ellya menyanggupinya. Namun belum juga janji itu tertunaikan, Benyamin dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa. Benyamin meninggal setelah terkena serangan jantung kala bermain sepak bola, 5 September 1995. Ellya menangis karena tak bisa mengantarkan sohib kentalnya itu ke pembaringan terakhir di TPU Karet Bivak. Kontrak yang sudah ditandatanginya menghalangi ia terbang pulang ke Jakarta.

Lahir di Kemayoran

Benyamin lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939. Bapaknya Suaeb, asal Purwerejo, dan ibunya, Siti Aisyah, anak Haji Ung–seorang tuan tanah sekaligus jawara yang cukup dihormati di Kemayoran. Benyamin bungsu dari sembilan bersaudara. Ia lahir tatkala Suaeb di Belitung. Tak lama bapaknya meninggal lantaran penyakit tumor. Benyamin pun menjadi yatim. Ia mengalami sendiri susahnya hidup di zaman perang, apalagi tak lama Jepang datang. Siti Aisyah pun sungsang sumbel (susah payah) menafkahi anak-anaknya itu. Mulai dari berjualan hingga mencuci baju dikerjakan Aisyah. Kelak perjuangan ibunya ini mempengaruhi pola pikir Benyamin begitu dalam.

Continue reading

Pilgub Jawa Timur 2018, PKB Minta Bakal Cawagub dari PDIP

Pilgub Jawa Timur 2018, PKB Minta Bakal Cawagub dari PDIP  

TEMPO.COSurabaya – Dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur, Abdul Halim Iskandar, secara tegas menyampaikan PKB menginginkan calon wakil gubernur yang akan mendampingi Saifullah Yusuf berasal dari kader PDI Perjuangan. Pria yang akrab disapa Gus Ipul tersebut resmi menjadi calon Gubernur Jawa Timur yang diusung PKB.
“Hari ini saya mengajak Gus Ipul sowan dengan harapan PDIP Jawa Timur berkenan mengirim wakilnya untuk mendampingi Gus Ipul yang diusung PKB,” kata Halim saat ditemui di kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan untuk membicarakan Pilgub Jawa Timur 2018 di Jalan Kendangsari, Surabaya, Kamis, 1 Juni 2017.
Continue reading