Rumah Bersama Bernama Pancasila

https://i2.wp.com/www.jawapos.com/uploads/news/2017/06/01/rumah-bersama-bernama-pancasila_m_134234.jpeg

KETEGANGAN dan polarisasi yang dipicu oleh proses politik elektoral memang mencemaskan. Betapa tidak. Karena perbedaan pandangan dan posisi politik, satu sama yang lain saling serang secara membabi-buta. Yang satu menuduh kafir, yang lain menuding garis keras. Yang satu teriak anti-asing, yang satu lagi mendamprat anti kebinekaan. Tidak heran jika sampai ada hubungan silaturahmi yang retak gara-gara itu.

Perbedaan pandangan dan sikap politik sebenarnya hal jamak dalam kehidupan demokrasi. Jika mau ditelaah lagi, ketegangan dan polarisasi yang terjadi pada masa silam bahkan jauh lebih kuat dan keras. Dulu ketegangan dan polarisasi itu bahkan dipicu oleh sesuatu yang mendasar: konflik ideologi. Pada masa ketika para pendiri bangsa masih mencari-cari bentuk kebangsaan dan kenegaraan, konflik ideologi itu tampak lebih sulit didamaikan, bahkan walau tidak sedang terjadi proses politik elektoral sekali pun.

Justru karena konflik ideologi yang mengeras itulah kita akhirnya ’’menemukan’’ Pancasila.

Advertisements

OPINI: Pentingnya Mengamankan Aplikasi

Liputan6.com, Jakarta – Beberapa dekade lalu, program komputer biasanya digunakan untuk mendukung kerja tim dalam perusahaan, misalnya untuk menyimpan data dan dokumen.

Program tersebut berjalan dalam server yang tersimpan di lingkungan perusahaan (on-premise), yang tentunya ditunjang oleh infrastruktur penyimpanan dan komputasi data yang relatif besar.

Pada saat itu, pengguna harus berada di kantor secara fisik untuk login dan menggunakan program tersebut dari komputer perusahaan.

Ketika perusahaan mulai menyimpan data-data berharga secara digital yang besarnya terus meningkat, maka semakin besar pula anggaran perusahaan untuk keamanan data Information Technology (IT).

Misalnya, perusahaan harus membeli firewall dan program antivirus agar data atau informasi dapat tersimpan dengan aman di dalam perusahaan.

Kita kemudian bermigrasi ke layanan berbasis web, yang menjadi awal mula revolusi ‘bekerja dari rumah’ atau work-from-home. Revolusi ini membawa misi memberdayakan karyawan dan mengurangi kebutuhan terhadap penyimpanan dan hardware. Namun, tentu saja ada harga yang harus dibayar.

Continue reading

Bahaya Laten Pasca-Komunisme

Liputan6.com, Jakarta – Bahaya laten Komunis? Itu dulu. Sekarang Indonesia menghadapi bahaya laten Islamis. Kaum komunis beserta ideologi komunisme di Indonesia sudah menjadi “hantu kuburan” yang sulit dan mustahil bangkit lagi. Bukan hanya di Indonesia, di berbagai belahan dunia, komunisme juga semakin menjadi “barang rongsokan” yang sepi peminat dan miskin pengikut. Mungkin hanya Korea Utara yang masih “bernostalgia” dengan komunisme.

Selebihnya, tidak ada negara dan masyarakat yang melirik dengan komunisme. Kuba sudah kapok menjadi rezim komunis yang terisolir, yang hanya mengakibatkan keterpurukan warga. Republik Rakyat China (PRC) kini sudah menjelma menjadi “negara gado-gado”: setengah komunis, setengah kapitalis.

Sementara Uni Soviet (USSR) sebagai “kampiun dan produser komunisme” sudah menjadi “mendiang” dan hancur berkeping-keping sejak akhir 1980-an, pecah menjadi puluhan negara kecil. Rusia, sebagai pewaris almarhum Soviet, sudah menjadi negara multi-partai. Partai Komunis tidak lagi dominan dan hegemonik.

Rusia kini berbentuk negara federasi dan republik semi-presidensial. Rusia bukanlah Soviet yang bertumpu pada komunisme, tetapi sudah berubah menjadi negara kapitalis yang bertumpu pada kekuataan pasar. Pula, Rusia dewasa ini adalah sebuah “negara agamis” di mana Kristen Ortodoks Rusia menjadi pilar utamanya.

Continue reading